oleh

Sengketa Tanah H A Gafar : Poktan Teluk Jaya Akan Di laporkan Ke Bupati Tanjabbar

Batang Asam | Wartaposgroup -Keluarga H. A. Gafar melalui Penerima Kuasanya sebut saja Imran Abdullah, melaporkan Kelompok Tani Teluk Jaya Desa Kampung Baru Kecamatan Batang Asam ke Bupati Tanjab Barat, di duga Kelompok Tani Teluk Jaya tersebut Telah menyerobot lahan warisan H. Abdulrahman (Alm) yang berlokasi di sungai salak Desa Kampung Baru, penyerobotan di lakukan mengunakan Alat berat jenis Exsavator.

Wartaposgroup awak media ini, kamis malam jumat, (15/18) Berhasil mewawancarai Apik yang merupakan Ketua Kelompok Tani Teluk jaya mengakui bahwa memang benar ada Tanah warisan milik bapak H. Abdulrahman (Alm), tapi tidak sebanyak sebagaimana surat yang ada.

Menurut kelompok Tani lahan tersebut tersebut seperi hutan rimba sudah beberapa tahun tidak di olah, makanya kelompok tani membuka lahan untuk penghidupan, apakah mungkin pada tahun 1954 buka lahan sebanyak itu, apa lagi di akui oleh A. H. Gafar orang tuanya dulu membuka lahan mengunakan kapak dan beliung,”ungkap Apik.

Selanjutnya, Apik menjelaskan,kelompok tani Teluk Jaya akan tetap mempertahankan Tanah yang telah kami garap tersebut, sedikitpun tidak ingin membagikan kepihak H. A. Gafar, Kalau mau buat laporkan kemana saja kelompok tani ikut . Atau mau mengadukan pemasalahan ini ke meja hijau sekalian,” tegas  Apik.

Tambah Apik, karena kelompok Tani Teluk Jaya bersama Pemerintahan Desa Kampung Baru telah mengadakan musyawarah untuk mencari solusi jalan terbaik, terkait sengketa tanah tersebut di kantor Desa Kampung Baru tanggal 10 januari yang lalu,  di hadir sekcam Batang Asam, Kepala Desa Herman serta perangkat Desa, Namun pihak H. A. gapar tidak mau menerima hasil musyawarah tersebut,”Kata Apik.

Di tempat terpisah Ada salah satu anggota kelompok Tani Aspawi, saat di temui Awak media Wartaposgroup, sesuai dengan isi berita acara musyawarah pekan lalu mengatakan, Memang benar ada H. Abdulrahman (Alm), membuka lahan tersebut, tapi lahan tidak seluas sebagaimana dalam surat, kalau pun ada tanahnya sekitar 5 hektar, benar juga ada pondok H, Abdulrahman (Alm) di kuala Asam,”ucap Aspawi.

Aspawi emnjelaskan lagi, secara logika pada zaman itu tidak mungkin membuka lahan sebanyak itu pakai kapak dan beliung, dengan tegas Aspawi berkomentar kalau pihak H. A. gafar mau mengadu ke pengadil kami tidak takut karena banyak saksi mengatakan bahwa lahan H. Abdulrahman (Alm), tidak sebanyak itu, nanti kata saksi tersebut siap menjadi saksi di mana saja, Kalau mau mengadu ke bupati silahkan bilangkan dengan Imran,” sebut Aspawi.

Saat di komfirmasi H. A. Gafar melalui Penerima Kuasanya Imran Abdullah, memaparkan dan tanggapan pihak H. Abdul Gapar, menjelaskan memang waktu itu bapaknya membuka lahan tidak luas, kenapa lahan itu bisa luas karena H. Abdul gapar meminjam uang di bank untuk membuka dan meluaskan lahan tersebut.

Asal tanah tersebut dari warisan orang tua yaitu H.Abdulrahman (Alm), membuka lahan itu sekitar tahun 1968/1969, permintaan H. Abdul Gapar, jangan sampai menghilangkan harta warisan orang tuanya, dan kalau bisa tanah tersebut kita jual hasil penjualan di bagi dua.” ungkap Imran.

Selanjutnya Imran Abdullah,mengatakan, kalau kelompok tani Teluk jaya menyerobot lahan itu dengan dasar apa, karena indikasi dan dugaan saya kelompok tani teluk jaya illegal, kami tentang apa yang di bilang Ketua kelompok Tani tersebut, masalah ini akan kami buat laporan ke Bupati Tanjab barat dalam waktu dekat ini, Bukti-buktinya sudah cukup dan berkas – berkasnya semua sudah di tangan saya,” kata Imran.

Tambah nya, Kalau nanti tidak putus mediasinya di Pemkab Tanjab Barat, saya Akan laporkan ke pengadilan kuala Tungkal, lahan sudah di tanam seperti coklat, jelutung, pinang, kok aneh kok bisa – bisa kelompok tani mengangku lahan mereka dan sudah kami menduga menyerobot lahan, merobohkan pondok,” ucapnya.

Kepala Desa Kampung Baru Hermansya, saat jumpa di kantor Camat Batang Asam, jumat, (16/04/18) memaparkan media wartposgroup, Dalam keputusan akhir musyawarah di Aula kantor Desa Kampung Baru yang lalu, dan di hadiri kedua belah pihak baik itu H. Abdul gapar sekeluarga dan kelompok Tani untuk menyelesaian sengketa lahan warisan H. Abdulrahman (Alm), belum ada kesepakatan kedua belah pihak terkait penyelesaian masalah tanah tersebut.

Selagi tanah tersebut, masih dalam proses penyelesaian maka kedua belah pihak tidak boleh menggarap tanah yang di maksud dan di berikan tempo selama 1 bulan, dan bulan untuk penyelesaian. Selanjutnya, Apabila selama 1(satu) bulan tenggang waktu yang di berikan sejak berita acara di buat kemaren. Maka, tidak ada lagi larangan kedua belah pihak untuk menggarap tanah tersebut, dan jika belum selesai juga permasalahan ini dalam tempo waktu yang di berikan satu bulan. Maka, dipersilahkan kedua belah pihak untuk mwngadukan permasalhan ini ke meja hijau, saya tidak ikut campur, bila mana nanti ada minta mediasi lagi kami pihak desa siap ,”ungkap Kades Herman. (kemas mirwan.aw)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed