oleh

Sal Pol PP Kota Jambi Tertibkan PKL Segitaran Ancol

-JAMBI-1 views
banner 728x90

Kota jambi – Petugas Satpol PP menertibkan lapak pedagang di Ancol, Kota jambi Alih – alih menciptakan ketertiban umum, Pemerintah Kota Jambi menggusur pedagang kaki lima (PKL) di seputaran Taman Tanggo Rajo atau Ancol, Pemerintah kota jambi melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memindahkam PKL yang berada di pintu masuk Jembatan Gentala Arasy ke lahan di area bawah. 15/02/2021, Jam 17.00wib sore kemarin

Bahkan, sejumlah perlengkapan dagang para PKL yang berada di jalan Ancol diangkut petugas. Truk sudah disiapkan untuk mengangkut gerobak dan kursi pemilik PKL.lebih beruntung yang tahu ada penggusuran masih sempat menyelamatkan peralatan dagang mereka. Kepala Satpol PP Kota Jambi, Mustari, mengatakan kalau penertiban ini merupakan amanat Peraturan Gubernur no14 tahun 2019 tentang ketertiban umum.

Ada pula peraturan daerah Kota Jambi nomor 47 tahun 2002 tentang ketertiban umum dan Perda nomor 12 tahun 2016 tentang penataan ruang dan pemberdayaan PKL, sejumlah aturan itu yang mendasari penertiban PKL ini.

Mustari mengatakan kalau tujuan penertiban ini adalah untuk menciptakan Kota Jambi yang tertib bersih kalau pemerintah tidak melarang PKL untuk berjualan namun ada aturan yang harus diikuti.

Kita mengatur waktunya dan pedagang tidak meninggalkan barang,” kata Mustari, pihaknya sudah berkomunikasi dengan PKL untuk waktu jualan. PKL boleh berjualan dari pukul 4 sore hingga pukul 11 malam.

Paling lambat jam 11 malam sudah steril semua berada ditempat di depan rumah dinas gubernur Jambi.ditambahkan lagi (Mustari) kalau sudah seharusnya lokasi itu ditata sebaik mungkin. Berhubung saat ini masih dalam kondisi pandemi COVID-19, PKL juga diminta menyediakan masker bagi pengunjung yang tidak memakai masker.

“Kami akan selalu memantau kondisi tempat yang memang menjadi objek wisata,”sebutnya. Setidaknya ada sekitar 50 pedagang yang ditertibkan tadi siang.

Mustari bilang kalau lapak yang ditinggalkan pedagang membuat kawasan tersebut menjadi kumuh. Para pedagang diberi tenggat waktu hingga besok untuk membawa pulang dagangannya saat selesai berjualan.

Para pedagang diminta untuk menyiapkan tempat sampah agar lebib mudah diangkut oleh petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup. Sekalipun para pedagang ditarik retribusi parkir dan kebersihan. Kata Mustari, retribusi itu sudah kewajiban.

“Siapa pun itu termasuk parkir juga ditarik,”sebutnya. Selain pedagang, Satpol PP juga tengah memantau para pengamen yang kerap beraktifitas di kawasan itu, sebutnya Mustari, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial. “Kenapa anak kecil bisa mengamen. Apakah itu dieksploitasi atau dikoordinir oleh oknum-oknum tertentu.Mudah-mudahan dapat dilakukan penertiban terhadap pengamen yang masih usia sekolah ini,” Meski pemerintah beralasan atas aturan yang ada, penertiban ini tetap saja menjadi hal yang merugikan bagi para pedagang.

Terlebih kalau ada peralatan dagang yang rusak karena diangkut petugas. Salah satu pedagang es tebu, Furi mengatakan kalau peralatan dagangnya hancur karena diangkut. Dia bilang kalau para PKL sebelumnya sudah berkomunikasi dengan pihak pemerintah, dalam hal ini Lurah setempat dan pihak Satpol PP.

Mereka meminta agar peralatan hanya dipinggirkan. Dan itu sudah dia lakukan. “Tadinya sudah dipinggirin meja dan gerobaknya ditaruh di bawah. Tapi Pol PP datang bongkar semua,” kata dia.

Diakui Furi, dia tidak diberitahukan kalau harus membawa barang dagangan pulang. Namun, saat penertiban malah barang miliknya yang sudah dipinggirkan malah diangkut. Kejadian ini membuat Furi makin susah, padahal belakangan dagangannya tidak laku banyak. Saat pandemi jualannya makin merosot, (Andi Koorwil)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkini